REGIONAL Gubernur Yulius Gaungkan ‘Torang Samua Basudara’ di Idul Fitri 1447 H

Sulawesi Utara213 Dilihat

Manado – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang digelar di Lapangan Sparta Tikala.

Pelaksanaan sholat berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan, menjadi momentum istimewa setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus, turut hadir bersama jajaran dan menyampaikan pesan penuh makna kepada masyarakat. Dalam sambutannya, ia menuturkan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan simbol kemenangan sejati umat Muslim setelah berhasil menahan hawa nafsu selama Ramadan.

“Satu bulan penuh umat Muslim melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan, di bulan yang suci. Dan inilah hari kemenangan, dimana semuanya dapat melaksanakan, menyelesaikan, memenangkan. Dari semua kegiatan-kegiatan yang tentunya umat Muslim cita-citakan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kemenangan yang diraih tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga kemenangan dalam mengendalikan diri dan hawa nafsu.

Pada kesempatan tersebut, gubernur juga menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada seluruh umat Muslim di Sulut.

“Atas nama pemerintah provinsi Sulut, pribadi dan keluarga, saya mengucapkan Minal ‘Aidin wal-Faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga ke depan, saudara-saudara semakin dikuatkan iman dalam mengarungi kehidupan, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ucapnya.

Gubernur Yulius pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus mempererat tali silaturahmi, serta menjaga persatuan dan kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, perbedaan yang ada di tengah masyarakat bukanlah penghalang, melainkan kekuatan besar untuk membangun daerah.

“Perbedaan bukan menjadi jurang, tetapi menjadi kekuatan kita untuk membangun Sulawesi Utara yang lebih maju, sejahtera dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Perayaan Idul Fitri tahun ini pun menjadi simbol harmoni dan kebersamaan di Bumi Nyiur Melambai, di mana nilai toleransi dan persaudaraan terus dijaga sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. (*)