Sumpah Pemuda ke-98, Garda Marhaenis Muda Sulut: Aktualisasikan Gagasan Nation and Character Building

Sulawesi Utara291 Dilihat

datatimes.id, Manado – Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali memperkuat semangat nasionalisme, persatuan, dan karakter kebangsaan dalam menghadapi berbagai tantangan Indonesia di era globalisasi.

Ketua Garda Marhaenis Muda Sulawesi Utara (Sulut), Golfinger Kalensang, mengatakan bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa bersejarah, melainkan tonggak penting yang menegaskan kesadaran kolektif bangsa Indonesia untuk bersatu dalam cita-cita kemerdekaan.

Menurutnya, semangat persatuan yang dikukuhkan melalui Sumpah Pemuda harus terus dihidupkan oleh generasi muda sebagai landasan dalam menjawab persoalan bangsa yang semakin kompleks.

“Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 harus dimaknai secara mendalam oleh seluruh anak bangsa. Melalui momentum ini, semangat nasionalisme Indonesia kembali diteguhkan sebagai kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan yang mengancam persatuan dan kemandirian bangsa,” ujar Kalensang.

Ia menjelaskan, jika pada masa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia menghadapi kolonialisme dalam bentuk penjajahan langsung, saat ini tantangan yang dihadapi berkembang dalam berbagai dimensi, termasuk ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Kalensang mengaitkan tantangan tersebut dengan pemikiran Bung Karno mengenai neokolonialisme dan imperialisme (Nekolim), yakni bentuk dominasi yang dapat berlangsung melalui mekanisme ekonomi, politik, maupun pengaruh kebudayaan tanpa harus melalui penjajahan secara langsung.

Menurut dia, tantangan tersebut perlu dicermati melalui berbagai persoalan, mulai dari potensi disintegrasi bangsa, penguasaan sumber daya alam yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat, hingga melemahnya kesadaran nasionalisme di tengah arus globalisasi.

“Bangsa ini harus mampu membaca berbagai tantangan yang dapat mengancam kemandirian nasional. Pengelolaan kekayaan alam harus berorientasi pada kesejahteraan rakyat, sementara semangat kebangsaan perlu terus diperkuat agar kita tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan global,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kalensang menilai penguatan nasionalisme tidak cukup dilakukan melalui seremoni peringatan hari besar nasional. Diperlukan agenda nyata dan berkelanjutan untuk membangun karakter bangsa, memperkuat solidaritas sosial, serta memastikan pembangunan ekonomi dan kebudayaan berjalan sejalan dengan kepentingan nasional.

Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya kembali mengaktualisasikan gagasan Nation and Character Building yang pernah digaungkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Bagi Kalensang, pembangunan bangsa harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter. Kemajuan material, menurutnya, perlu ditopang oleh kesadaran sejarah, integritas, semangat gotong royong, dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.

“Nasionalisme harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Bukan hanya mencintai Indonesia secara simbolis, tetapi juga menjaga persatuan, memperjuangkan keadilan sosial, mengawal kekayaan alam agar bermanfaat bagi rakyat, serta membangun karakter generasi muda yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa,” ungkapnya.

Ia pun mengajak generasi muda Sulut untuk menjadikan peringatan Sumpah Pemuda sebagai momentum memperkuat persatuan di tengah perbedaan serta mengambil bagian aktif dalam pembangunan bangsa.

Menurutnya, semangat nasionalisme yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan rakyat menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas kebangsaan.

“Semangat Sumpah Pemuda harus terus hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan generasi muda. Dengan nasionalisme yang kuat, karakter bangsa yang kokoh, serta komitmen terhadap keadilan sosial, Indonesia dapat menghadapi tantangan global tanpa kehilangan arah dan jati dirinya,” tutup Kalensang.

Editor: Anugrah Pandey