Dari Desa untuk Indonesia: DPN PERDESA Satukan 68 Etnis dan 34 Provinsi

Nasional543 Dilihat

datatimes.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Nasional Persatuan Pemuda Desa Indonesia (DPN PERDESA) menggelar Konsolidasi Akbar Nasional sebagai langkah awal memperkuat persatuan pemuda desa sekaligus menyatukan gagasan untuk mendorong pembangunan desa berbasis riset, inovasi, potensi lokal, dan keberlanjutan.

Kegiatan yang berlangsung di Jakarta pada 6 Oktober 2026 tersebut dihadiri perwakilan dari 34 provinsi dan 68 etnis di Indonesia. Para peserta berasal dari beragam latar belakang dan profesi, mulai dari pemuda, mahasiswa, guru, aktivis, akademisi, wiraswasta, pengacara, pengusaha, kontraktor, hingga berbagai profesi lainnya.

Konsolidasi ini juga menunjukkan semangat kolaborasi lintas organisasi. DPN PERDESA membuka ruang kerja sama dengan berbagai organisasi kepemudaan dan elemen masyarakat sipil, di antaranya organisasi yang tergabung dalam OKP Cipayung Plus, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta berbagai organisasi kepemudaan dari sejumlah daerah di Indonesia.

Salah satu tokoh pemuda yang hadir, mantan Sekretaris Umum GMKI periode 2022–2024, Artinus Hulu, menyampaikan bahwa desa merupakan fondasi bangsa. Ia berharap PERDESA dapat menjadi rumah bersama bagi pemuda desa Indonesia sebagai ruang kolaborasi, inovasi, dan perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Hal senada disampaikan tokoh perempuan Sulawesi Utara, Fancy, yang juga menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum GAMKI. Ia mendorong pemuda desa untuk tetap solid dan mampu bersaing di tingkat nasional sebagai agen perubahan.

Sejumlah tokoh lainnya turut hadir, antara lain Ketua Umum Basudara Aman, Cobyan, serta Agung Gumelar yang merupakan fungsionaris PB II.

Keterlibatan berbagai organisasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun jejaring dan memperluas gerakan pemuda desa. DPN PERDESA memandang bahwa persoalan pembangunan desa membutuhkan kolaborasi lintas organisasi, lintas profesi, lintas daerah, serta lintas kelompok masyarakat.

Keberagaman menjadi kekuatan utama dalam konsolidasi ini. DPN PERDESA menilai pembangunan desa tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam, karena setiap desa memiliki karakter, kebutuhan, potensi sumber daya alam, budaya, serta tantangan yang berbeda-beda.

Melalui konsolidasi nasional ini, DPN PERDESA mendorong lahirnya gerakan pemuda desa yang tidak hanya berbicara mengenai persoalan desa, tetapi juga mampu menghadirkan data, riset, gagasan, inovasi, dan solusi nyata bagi kemajuan desa di seluruh Indonesia.

Pembangunan desa berbasis riset dan inovasi diharapkan menjadi fondasi untuk mengoptimalkan potensi desa, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membuka peluang ekonomi, memperkuat kemandirian masyarakat, serta menjadikan desa sebagai bagian penting dari pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Founder Persatuan Pemuda Desa Indonesia, Yukenriusman Hulu, mengatakan bahwa konsolidasi nasional tersebut merupakan momentum untuk menyatukan pemuda dari berbagai daerah, organisasi, profesi, dan latar belakang dalam satu semangat perjuangan untuk desa.

“Konsolidasi ini bukan sekadar pertemuan, tetapi merupakan langkah awal untuk menyatukan gagasan dan kekuatan pemuda desa dari Sabang sampai Merauke. Kita ingin membangun gerakan yang bekerja berdasarkan data, riset, dan inovasi, sehingga setiap persoalan desa dapat dijawab dengan solusi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Yukenriusman Hulu.

Menurutnya, keterlibatan berbagai OKP, BEM, LSM, dan elemen pemuda lainnya menunjukkan bahwa pembangunan desa merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi yang kuat.

Hal tersebut juga disampaikan perwakilan Sumatera Utara, Donius. Ia menegaskan bahwa DPN PERDESA tidak dibangun untuk berjalan sendiri, melainkan menjadi ruang bersama bagi berbagai elemen masyarakat.

“Kita membuka ruang seluas-luasnya bagi organisasi kepemudaan, mahasiswa, aktivis, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, dan berbagai elemen lainnya untuk bersama-sama memberikan kontribusi bagi desa. Perbedaan latar belakang bukan penghalang, justru menjadi kekuatan untuk melahirkan gagasan yang lebih kaya dan solutif,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan wilayah kepulauan dan daerah 3T, April Julianus, menegaskan bahwa desa memiliki potensi besar yang selama ini belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Karena itu, pemuda harus hadir sebagai bagian dari solusi dengan membawa pengetahuan, teknologi, kreativitas, kewirausahaan, serta inovasi yang dapat diterapkan sesuai karakter masing-masing desa.

“Kita tidak ingin pemuda desa hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Pemuda harus menjadi subjek, penggerak sekaligus pelopor perubahan di desa. Dari desa kita membangun Indonesia, dan dari pemuda desa kita menyiapkan masa depan bangsa,” tegasnya.

Yukenriusman Hulu menambahkan bahwa Konsolidasi Akbar Nasional ini juga menjadi tahap awal menuju Deklarasi Nasional DPN Persatuan Pemuda Desa Indonesia yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Deklarasi tersebut akan menjadi momentum penting untuk mempertegas arah perjuangan, visi, misi, serta komitmen PERDESA dalam membangun jejaring pemuda desa secara nasional.

Dengan semangat persatuan dalam keberagaman, DPN PERDESA mengusung visi:

“Mewujudkan pemuda desa Indonesia yang bersatu, berdaya, mandiri, dan inovatif sebagai penggerak kemajuan desa dan bangsa.”

DPN PERDESA berharap konsolidasi ini menjadi awal dari gerakan nasional yang mampu mempertemukan berbagai potensi pemuda desa, memperkuat kolaborasi lintas organisasi, lintas profesi, dan lintas daerah, serta menghadirkan gagasan-gagasan baru untuk menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya, dan inovasi Indonesia.

Editor: Anugrah Pandey

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *